| "Dosen STIKES RS Baptis Kediri bersama Jamaat berfoto bersama dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat"/Foto: Redaksi |
RADARDETIK.ID - KEDIRI - Deteksi risiko diabetes tak harus menunggu munculnya keluhan. Berbekal teknologi digital yang praktis, masyarakat kini dapat didorong untuk mengenali faktor risiko lebih awal dan mengambil langkah pencegahan sebelum masalah kesehatan berkembang lebih jauh. Semangat tersebut diusung tim STIKES RS Baptis Kediri bersama Gereja Baptis Indonesia (GBI) Sahabat Kediri melalui pemanfaatan inovasi Diabetes Risk Calculator (DRC) sebagai sarana skrining cepat risiko diabetes mellitus berbasis komunitas.
Inovasi itu diterapkan melalui program Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) bertajuk “Pemanfaatan Inovasi Diabetes Risk Calculator sebagai Skrining Cepat Risiko Diabetes Mellitus pada Peserta Prolanis di GBI Sahabat Kota Kediri”. Program berlangsung pada 16 Juli–10 Agustus 2026 dan didukung melalui Program Hibah Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026.
Program tersebut berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang membutuhkan perhatian melalui upaya promotif dan preventif. Kesadaran terhadap faktor risiko, pola hidup sehat, serta pentingnya deteksi dini menjadi bagian penting dalam upaya mencegah dan mengendalikan penyakit tersebut.
![]() |
| "Ketua Tim pengabdian Erva Elli Kristanti ketika memberikan edukasi kepada jamaat"/Foto: Redaksi |
Ketua Tim Pengabdian, Erva Elli Kristanti, S.Kep., Ns., M.Kep., mengatakan pendekatan berbasis komunitas dipilih agar upaya pencegahan tidak hanya berpusat di fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat. “Kami ingin membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan tidak harus dimulai ketika seseorang sudah sakit. Mengenali faktor risiko lebih awal justru memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperbaiki gaya hidup dan mengambil langkah pencegahan sedini mungkin,” ujar Erva.
Teknologi Membantu Masyarakat Mengenali Risiko
Melalui Diabetes Risk Calculator, masyarakat dapat memperoleh gambaran awal mengenai risiko diabetes berdasarkan sejumlah faktor yang berkaitan dengan kondisi kesehatan dan gaya hidup. Teknologi tersebut dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko diabetes sekaligus mendorong kebiasaan melakukan deteksi dini.
Erva menegaskan bahwa DRC tidak dirancang untuk menggantikan pemeriksaan medis ataupun diagnosis oleh tenaga kesehatan.
“Diabetes Risk Calculator bukan alat diagnosis. DRC merupakan alat skrining awal yang membantu masyarakat mengenali tingkat risikonya. Jika hasil skrining menunjukkan adanya risiko, masyarakat kami dorong untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” jelasnya.
![]() |
| "Foto bersama kegiatan Pengabdian kepada masyarakat di GBI Sahabat Kediri"/Foto: Redaksi |
Dengan demikian, teknologi ditempatkan sebagai pendukung edukasi dan pencegahan, bukan sebagai pengganti tenaga kesehatan. Hasil skrining diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, menjaga berat badan sehat, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Kader Jadi Penggerak, Program Tak Berhenti Setelah Pengabdian
Program PMP tersebut tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi. Tim STIKES RS Baptis Kediri juga memperkuat kapasitas **kader kesehatan agar mampu menjadi penggerak edukasi dan skrining di lingkungan komunitas.
Kegiatan dilaksanakan melalui lima tahapan utama, yakni sosialisasi program, pelatihan kesehatan dasar bagi kader, penerapan teknologi Diabetes Risk Calculator, pendampingan, serta evaluasi. Para kader memperoleh pembekalan mengenai diabetes mellitus, faktor risiko, pentingnya deteksi dini, serta keterampilan memanfaatkan DRC untuk mendukung kegiatan skrining.
Menurut Erva, keterlibatan kader menjadi salah satu unsur penting agar manfaat program dapat terus dirasakan setelah rangkaian kegiatan pengabdian selesai.
“Target kami bukan sekadar masyarakat mencoba teknologi atau mengikuti skrining satu kali. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan dan keterampilan itu tetap berada di tengah masyarakat. Karena itu, kader kami siapkan agar mampu melanjutkan edukasi dan membantu masyarakat mengenali faktor risiko diabetes secara lebih mandiri,” katanya.
![]() |
| "Sambutan kegiatan pengabdian kepada masyarakat STIKES RS Baptis Kediri di GBI sahabat Kediri"/Foto: Redaksi |
Kader selanjutnya diharapkan dapat menjadi agen edukasi kesehatan bagi jemaat, keluarga, dan masyarakat sekitar. Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai bagian aktif dalam membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan.
Ketika Tempat Ibadah Menjadi Ruang Promosi Kesehatan
Kolaborasi dengan GBI Sahabat Kediri juga menunjukkan bahwa komunitas keagamaan memiliki potensi besar dalam mendukung upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan. Tempat ibadah bukan hanya menjadi ruang aktivitas keagamaan, tetapi juga ruang sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kedekatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun literasi kesehatan dan memperkuat budaya pencegahan penyakit.
Perwakilan GBI Sahabat Kediri menyambut positif kolaborasi tersebut karena memberikan kesempatan kepada jemaat untuk memperoleh pengetahuan sekaligus pengalaman langsung dalam mengenali faktor risiko diabetes.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh jemaat. Harapannya, setelah mengetahui faktor risikonya, masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan dan mulai membangun pola hidup sehat bersama keluarga,” ungkap perwakilan GBI Sahabat Kediri.
![]() |
| "Edukasi praktek kegiatan pengabdian kepada masyarakat di GBI Sahabat Kediri"/Foto: Redaksi |
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas tersebut memperlihatkan bahwa pencegahan penyakit tidak menular dapat dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bukan Sekadar Teknologi, tetapi Mendorong Perubahan Perilaku
Pemanfaatan DRC dalam program ini pada akhirnya bukan sekadar persoalan digitalisasi layanan kesehatan. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana informasi mengenai risiko dapat mendorong masyarakat melakukan perubahan perilaku. Karena itu, penggunaan DRC dipadukan dengan edukasi dan pendampingan sehingga masyarakat tidak berhenti pada mengetahui tingkat risiko, tetapi juga memahami langkah yang dapat dilakukan setelahnya.
“Teknologi hanyalah alat bantu. Keberhasilan yang sesungguhnya terjadi ketika hasil skrining membuat seseorang lebih sadar, kemudian mengambil keputusan untuk hidup lebih sehat. Inilah yang ingin kami bangun melalui program pemberdayaan masyarakat ini,” tutur Erva.
Program tersebut sekaligus menjadi implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan membawa inovasi dan pengetahuan dari lingkungan akademik agar dapat dimanfaatkan secara nyata oleh masyarakat. Kolaborasi STIKES RS Baptis Kediri dan GBI Sahabat Kediri melalui Diabetes Risk Calculator mempertemukan tiga kekuatan penting dalam pencegahan penyakit tidak menular, yakni inovasi teknologi, literasi kesehatan, dan pemberdayaan komunitas.
![]() |
| "Pengabdian kepada masyarakat Diabetes Risk Calculator dosen STIKES RS Baptis Kediri"/Foto: Redaksi |
Erva berharap model pemberdayaan tersebut dapat terus dikembangkan sehingga kebiasaan melakukan deteksi dini dan pencegahan penyakit tidak hanya tumbuh selama program berlangsung, tetapi menjadi bagian dari budaya hidup sehat masyarakat.
“Kami berharap masyarakat tidak menunggu sakit untuk mulai peduli terhadap kesehatan. Kalau risiko bisa dikenali lebih awal, kesempatan untuk melakukan pencegahan juga semakin besar,” pungkas Erva.
Pada akhirnya, DRC hanyalah sebuah alat. Kekuatan utamanya terletak pada masyarakat yang semakin memahami bahwa mencegah diabetes dapat dimulai jauh sebelum penyakit datang. Sebab, mengetahui risiko hari ini dapat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan di masa depan.
.jpeg)



.jpeg)

