![]() |
| "Flyer webinar pelatihan sesi 1 dan 2 PMI UNS bersama PERMA UT LLN"/Foto: Redaksi |
RADARDETIK.ID - Surakarta - Tim Pengabdian Internasional Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diketuai oleh Dimas Adika, S.Pd., M.Hum dan beranggotakan Dedy Eka Timbul Prayoga, S.Sn., M. Sn., Husna Nur Amalina, M.A., Dr. Marimin, M.Si., Kennia Wikanditha, S.S., M.Li., Juairiah Nastiti Sandyaningrum, S.Pd., M.TCSOL., Rizka Adela Fatsena, S.ST., M.Keb., Eki Rovianto, S.T., M.T., Dr. Desy Setyaningrum , M.P., Hengky Ditya Eko Nugroho, S.ST, M. Si., serta Nanang Maulana Yoeseph, S.Si., M.Cs Sekolah Vokasi UNS mengadakan kolaborasi Bersama PERMA UT LLN Jepang dalam program pengabdian masyarakat bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang bertajuk "Optimalisasi Well-Being dan Kompetensi Global PMI Jepang Melalui Penguatan Literasi Kesehatan Keselamatan Kerja, Komunikasi Lintas Budaya, dan Digital Branding".
Kegiatan pelatihan pertama dari seri kolaborasi ini diadakan secara daring melalui platform Zoom Meeting dengan tajuk "Breaking the Barrier: Professional Communication for Indonesian Migrant Worker", yang berlangsung pada 17 Mei 2026 mulai pukul 05.55–08.00 WIB atau sama dengan 07.55–10.10 JST waktu Jepang. Webinar ini dihadiri oleh 51 peserta dari kalangan pekerja migran Indonesia di Jepang. Pelatihan ini merupakan sesi pertama dari rangkaian tiga webinar pelatihan yang diselenggarakan tim PIM SV UNS, dengan topik (1) Breaking the Barrier: Professional Communication for Indonesian Migrant Workers, (2) Safety First, Study Fast: Implementasi Budaya Kesehatan Keselamatan Kerja, Ergonomi Belajar & Digital Safety, dan (3) Mindful Worker: Strategi Manajemen Diri dan Perencanaan Karier Purna PMI.
Yogaswara ketua PERMA UTLLN Jepang memberikan sambutan di seri pertama webinar pelatihan ini dengan penuh semangat, sekaligus mengucapkan terima kasih kepada Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret atas kolaborasi yang terjalin. Webinar pertama ini menghadirkan empat narasumber dari UNS, yakni: Husna Nur Amalina, M.A. - Dosen D3 Komunikasi Terapan SV UNS, Dr. Marimin, M.Si. - Dosen D3 Usaha Perjalanan Wisata SV UNS, Kennia Wikandhita, S.S., M.Li. - Dosen D3 Agribisnis SV UNS, dan Juairiah Nastiti Sandyaningrum, S.Pd., M.TCSOL - Dosen D4 Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional SV UNS. Webinar pertama ini dirancang untuk memberikan wawasan komprehensif kepada para PMI di Jepang, meliputi keterampilan komunikasi profesional di tempat kerja, pemahaman lintas budaya, etika komunikasi digital, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di era global.
![]() |
| Kegiatan Pelatihan Seri Satu "Breaking the Barrier: Professional Communication for Indonesian Migrant Worker"/Foto: Redaksi |
Husna Nur Amalina, M.A membuka materi dengan membahas teknik komunikasi profesional di lingkungan kerja internasional dan fenomena culture shock beserta dampak psikologisnya. Ia menjelaskan tiga fase adaptasi yang lazim dialami PMI: “Fasa Bulan Madu” yang penuh antusias, transisi ke fase kejutan budaya, hingga tercapainya adaptasi penuh. Husna juga mengangkat isu kelelahan kognitif sebagai tantangan nyata dalam proses adaptasi. Strateginya: bangun kepercayaan dengan rekan kerja, jaga kesabaran, dan kelola stres melalui kegiatan budaya serta komunikasi aktif dengan sesama PMI.
Setelah pembicara satu selesai, Maissy selaku moderator memperkenalkan pembicara kedua, Dr. Marimin, M.Si., yang memaparkan strategi pemahaman dan komunikasi lintas budaya berdasarkan pengalamannya selama lebih dari 35 tahun khususnya terkait Jepang. Ia menegaskan bahwa budaya mencakup nilai, keyakinan, dan praktik hidup yang harus dipahami bukan sekadar seni atau pertunjukan sebagai bekal bertahan di lingkungan baru. Ia menyoroti perbedaan mendasar antara budaya Indonesia yang kolektivis dengan budaya negara lain yang cenderung individualis. Nilai-nilai seperti gotong royong dan penghormatan kepada orang yang lebih tua, menurutnya, tetap harus dijaga di perantauan. Ia juga menekankan bahwa transformasi budaya adalah proses alami, namun konflik antarbudaya dapat dikelola melalui pemahaman dan adaptasi nilai yang bijak.
![]() |
| Sesi diskusi dan tanya jawab dalam kegiatan Pelatihan Seri Satu "Breaking the Barrier: Professional Communication for Indonesian Migrant Worker"/Foto: Redaksi |
Pembicara ketiga, Kennia Wikandhita, S.S., M.Li memaparkan etika komunikasi digital dari perspektif linguistik. Ia menjelaskan bahwa komunikasi digital tidak memiliki isyarat non-verbal seperti intonasi dan ekspresi wajah, sehingga pesan lebih rentan disalahartikan terutama dalam interaksi dengan akun anonim. Panduan praktis yang diberikan: gunakan “hedging language”, pilih emoji yang tepat konteks, dan pertimbangkan dampak pesan sebelum dikirim. Prinsip ini berlaku di ruang digital maupun di tempat kerja demi menjaga hubungan profesional yang harmonis.
Pembicara terakhir, Juairiah Nastiti Sandyaningrum, S.Pd., M.TCSOL memaparkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk kebutuhan kerja dan studi. Alat seperti ChatGPT, Gemini, dan Microsoft Copilot diperkenalkan sebagai pendukung dalam menulis email, membuat presentasi, analisis data, hingga penelitian akademis. Dua poin utama yang ditekankan: gunakan AI secara etis, dan selalu verifikasi konten yang dihasilkan. "AI adalah alat bantu, bukan pengganti," tegasnya.
Sesi tanya jawab yang dipandu Maissy berlangsung aktif merespons pertanyaan peserta seputar adaptasi budaya dan etnosentrisme. Para pembicara menekankan pentingnya mencari dukungan sosial saat menghadapi tekanan budaya dan mengingatkan peserta untuk memahami norma budaya dan gesture setempat guna menghindari kesalahpahaman. Maissy menutup acara sekaligus mengingatkan peserta mengenai webinar pelatihan seri kedua yang dijadwalkan pada Minggu, 14 Juni 2026, pukul 07.55 - 10.45 WIB (09.55–12.45 JST).


.jpeg)

