Notification

×

Iklan

Iklan

Pekarangan Sempit Jadi Lumbung Pangan, Dosen UNJAYA Dorong Perempuan Bangun Ketahanan Pangan Keluarga Lewat Vertikultur

Wednesday, 29 July 2026 | 14:55 WIB Last Updated 2026-07-29T07:55:07Z
"Foto bersama kegiatan program kerja Dosen Unjaya Dorong Perempuan Bangun Ketahanan Pangan Keluarga Lewat Vertikulur"/Foto: Redaksi


RADARDETIK.ID - Yogyakarta - Krisis pangan dan semakin terbatasnya lahan perkotaan tidak selalu harus dijawab dengan program berskala besar. Di sebuah permukiman di Yogyakarta, sekelompok perempuan membuktikan bahwa halaman rumah yang sempit dapat disulap menjadi sumber pangan sekaligus peluang ekonomi keluarga.


Melalui program pemberdayaan bertajuk "Perempuan Berdaya Melalui Pola Tanam Modern Vertikultur", para ibu yang tergabung dalam Kelompok Dasawisma Srikandi memperoleh pendampingan untuk mengembangkan pertanian vertikal (vertikultur) sebagai solusi menghadapi keterbatasan lahan.


Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta (UNJAYA) yang didukung melalui skema Diktisaintek Berdampak. Tim pelaksana dipimpin oleh Niken Wahyuning Retno Mumpuni, S.H., M.H., bersama Krisna Mutiara Wati, S.E., M.Sc., Arini Mifti Jayanti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, serta melibatkan mahasiswa UNJAYA, yaitu Amelia Putri Apreria, Fany Adiva Nuari, dan Mustika Arum Diah Hartami.


"Kegiatan program kerja dosen Unjaya ketika demonstarsi kepada warga"/Foto: Redaksi


Ketua tim, Niken Wahyuning Retno Mumpuni, menjelaskan bahwa program ini dirancang bukan sekadar mengajarkan teknik bercocok tanam, tetapi juga membangun kapasitas perempuan agar lebih percaya diri dalam mengelola ketahanan pangan keluarga. "Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada pengetahuan, kreativitas, dan kemauan masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya yang dimiliki," ujarnya.


Menurutnya, perempuan memiliki posisi strategis dalam menentukan pola konsumsi keluarga. Karena itu, peningkatan kapasitas perempuan di bidang pangan diharapkan mampu memberikan dampak yang berkelanjutan bagi rumah tangga maupun lingkungan sekitar.


Membangun Kepercayaan Diri sebagai Fondasi Pemberdayaan

Pelatihan diawali dengan materi mengenai self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri. Materi ini diberikan karena banyak perempuan yang sebenarnya memiliki potensi besar, namun belum berani mencoba hal baru akibat kurang percaya diri.


Peserta diajak memahami bahwa keberhasilan dapat dibangun melalui pengalaman sederhana, dukungan lingkungan, pembelajaran dari orang lain, serta kemampuan mengelola emosi secara positif. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan keberanian peserta untuk mulai berkebun, mengikuti kegiatan kelompok, hingga mengembangkan usaha berbasis hasil pertanian rumah tangga.


"Kegiatan bersama warga dalam kegiatan program kerja Dosen Unjaya Yogyakarta"/Foto: Redaksi


Vertikultur, Solusi Pertanian di Lahan Terbatas

Sesi berikutnya memperkenalkan teknik vertikultur menggunakan pipa paralon, metode budidaya tanaman yang memungkinkan berbagai jenis sayuran ditanam secara bertingkat sehingga tidak membutuhkan lahan yang luas. Metode ini dinilai memiliki sejumlah keunggulan, seperti penggunaan air yang lebih efisien, perawatan yang relatif mudah, tampilan yang rapi, serta hasil panen yang dapat memenuhi kebutuhan sayuran keluarga.


Jenis tanaman yang direkomendasikan antara lain sawi, pakcoy, kangkung, bayam, dan selada karena memiliki masa panen relatif singkat dan mudah dibudidayakan. Selain praktik budidaya, peserta juga memperoleh pelatihan penyusunan business plan sederhana. Materi tersebut mencakup perencanaan modal, penentuan harga jual, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan kelompok agar hasil panen tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.


Pekarangan Rumah Berpotensi Menjadi Sumber Pendapatan

Pelatihan turut mengenalkan konsep agribisnis skala rumah tangga dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia di sekitar lingkungan. Peserta diajak memanfaatkan barang-barang bekas sebagai media tanam, mengolah sampah organik menjadi pupuk, hingga memanfaatkan limbah rumah tangga tertentu sebagai nutrisi tambahan tanaman.


Salah satu tanaman yang direkomendasikan adalah seledri karena memiliki nilai jual cukup baik, mudah dibudidayakan, dan dapat dipanen berulang kali. Sebagai tindak lanjut, kelompok dasawisma didorong untuk mengembangkan produk olahan hasil panen dengan identitas kelompok, sehingga mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.


"Kegiatan sosialisasi Dosen Unjaya Yogyakarta pemanfaatan Pekarangan sempit jadi Lumbung Pangan"/Foto: Redaksi


Kolaborasi Kampus dan Masyarakat

Melalui program ini, UNJAYA menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kegiatan pengabdian yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat melalui peningkatan kapasitas, pendampingan, serta pengembangan potensi ekonomi berbasis lingkungan.

Semangat tersebut dirangkum dalam slogan program "Perempuan Hebat, Lingkungan Sehat, Pangan Kuat", yang menggambarkan harapan agar perempuan menjadi motor penggerak ketahanan pangan keluarga sekaligus pelestarian lingkungan.

Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim, urbanisasi, dan ancaman krisis pangan, inisiatif sederhana dari pekarangan rumah ini menunjukkan bahwa solusi ketahanan pangan dapat dimulai dari tingkat keluarga. Ketika perempuan diberdayakan dengan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri, pekarangan sempit pun dapat berubah menjadi ruang produktif yang memberi manfaat bagi ekonomi, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan.




×
Berita Terbaru Update