![]() |
"Mahasiswa KKN Unisri Surakarta ketika berfoto bersama dengan Komunitas Tani Desa Banyuaeng Klaten"/Foto : Redaksi |
RADARDETIK.ID - Perubahan global sering dimulai dari langkah-langkah kecil di tingkat lokal. Hal itulah yang Rinda Komala Sari sampaikan ketika melakukan sosialisasi dan praktik pengelolaan limbah dapur organik bersama Komunitas Wanita Tani di Desa Banyuaeng Kabupaten Klaten dalam rangkaian program kerja KKN Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Kegiatan sederhana ini tidak hanya memberi manfaat langsung bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wujud nyata dukungan terhadap berbagai tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).
Responsible Consumption and Production (SDG's 12)
Setiap rumah menghasilkan limbah dapur: kulit sayur atau buah, sisa nasi, cangkang telur, dan sebagainya . Jika dibuang begitu saja, sampah ini menambah beban TPA karena tidak bisa di daur ulang seperti sampah anorganik. Limbah dapur juga memicu pencemaran lingkungan karena menimbulkan bau tak sedap dan menjadi sarang lalat atau nyamuk yang dapat menimbulkan penyakit. Melalui sosialisasi ini, Rinda dan komunitas wanita tani belajar cara sederhana mengubah limbah tersebut menjadi produk berkelanjutan yang bermanfaat.
Pertama, limbah dapur dapat dijadikan Pupuk Organik Cair (POC) dengan mencampurnya bersama EM4 dan molase, lalu difermentasikan hingga menghasilkan pupuk yang mampu menyuburkan tanaman. Kedua, limbah tersebut dapat diolah menjadi kompos yang berfungsi memperbaiki kualitas tanah. Ketiga, limbah juga bisa dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot, yang nantinya menjadi alternatif pakan ternak yang lebih ramah lingkungan.
Pengelolaan limbah dapur merupakan salah satu wujud tanggung jawab terhadap proses konsumsi dan produksi bijak yang sejalan dengan tujuan SDG's.
Aksi kecil, dampak besar
Pengelolaan limbah dapur organik ini ternyata tidak hanya terkait dengan SDG 12: Responsible Consumption and Production, tetapi juga menyentuh banyak aspek lain dalam tujuan pembangunan berkelanjutan. Misalnya, melalui pemanfaatan limbah menjadi pupuk dan kompos, kegiatan ini berkontribusi pada SDG 2: Zero Hunger, karena mendukung pertanian lokal dan menjamin produktivitas pangan. Dari sisi sosial, keterlibatan kelompok wanita tani menunjukkan peran penting perempuan dalam pembangunan desa, sejalan dengan SDG 5: Gender Equality. Hasil olahan limbah juga membuka peluang usaha baru dan menambah penghasilan keluarga, yang mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth. Selain itu, pengelolaan limbah menciptakan desa yang lebih bersih dan sehat, sehingga mendukung SDG 11: Sustainable Cities and Communities. Dari perspektif lingkungan, berkurangnya sampah organik berarti juga berkurangnya emisi gas metana penyumbang pemanasan global, yang sejalan dengan SDG 13: Climate Action, serta menjaga kesuburan tanah dan keberlanjutan ekosistem pertanian sebagaimana tertuang dalam SDG 15: Life on Land. Dengan demikian, aksi lokal ini sesungguhnya memberi kontribusi nyata pada banyak target global secara bersamaan.
Dari Desa untuk Dunia
Yang membuat kegiatan ini berkesan bukan hanya soal teknis pengolahan limbah, tetapi semangat belajar bersama. Para ibu dengan antusias bertanya, mencoba, hingga berbagi cerita praktik sehari-hari. Sosialisasi ini menjadi ruang pertukaran ilmu yang sangat bermanfaat. Menjaga bumi bisa dimulai dari dapur rumah kita. Tidak perlu menunggu program besar, cukup dengan langkah sederhana, konsisten, dan gotong royong. Dari komunitas kecil di Klaten, lahirlah inspirasi yang sejalan dengan cita-cita global: dunia yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan.
Dari desa untuk dunia, aksi lokal untuk SDG's.