| "Opini mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang: Dari Limbah Tahu hingga Slag Alumunium"/Foto: Redaksi |
RADARDETIK.ID - Opini - Pengelolaan limbah industri menjadi ujung tombak pelestarian lingkungan hidup, khususnya di daerah dengan intensitas aktivitas industri tinggi seperti Kabupaten Jombang. Limbah yang tidak terkelola dengan baik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat secara langsung. Kunjungan kerja Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang didampingi Penjabat Bupati Jombang untuk meninjau pengolahan limbah tahu dan slag aluminium menjadi momentum strategis dalam mendorong praktik pengelolaan limbah berkelanjutan.
Peninjauan langsung ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan bentuk komitmen nyata dalam memastikan standar pengelolaan limbah industri terpenuhi. Fokus utama adalah memantau proses pengolahan limbah cair dari industri tahu dan limbah padat berbahaya berupa slag aluminium dua jenis limbah yang memiliki potensi dampak lingkungan signifikan jika tidak ditangani tepat.
1.Kompleksitas Limbah Tahu
Industri tahu tradisional di Jombang merupakan sektor UMKM yang vital bagi perekonomian lokal. Namun, di balik kontribusinya, industri ini menghasilkan limbah cair dengan karakteristik organik tinggi yang mengandung protein, karbohidrat, dan lemak dalam konsentrasi signifikan.
Pembuangan limbah tahu yang tidak terkendali ke badan air menimbulkan dampak berantai. Tingginya kadar Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) menyebabkan penurunan drastis kadar oksigen terlarut, memicu eutrofikasi yang berujung pada kematian biota akuatik. Proses dekomposisi anaerobik menghasilkan bau menyengat dan menjadi tempat berkembang biak vektor penyakit.
Tantangan utama terletak pada skala industri. Sebagian besar produsen tahu adalah pelaku UMKM dengan keterbatasan modal, pengetahuan teknis, dan akses terhadap teknologi pengolahan limbah. Kondisi ini menciptakan dilema antara keberlangsungan usaha dan tanggung jawab lingkungan.
Pendekatan komprehensif diterapkan melalui dua strategi. Pertama, implementasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan metode biologis dan biofilter yang efektif, ramah lingkungan, dan sesuai skala UMKM. Kedua, penguatan kapasitas melalui pendampingan intensif dari pemerintah daerah berupa penyuluhan teknis, bantuan pembiayaan, dan asistensi operasional. Pendekatan ini membuktikan bahwa solusi lingkungan memerlukan sinergi antara teknologi dan dukungan kelembagaan.
2. Inovasi Pengelolaan Slag Aluminium
Slag aluminium, residu padat dari proses peleburan aluminium, mengandung berbagai senyawa kimia berbahaya yang dapat mencemari tanah, air tanah, dan udara. Pengelolaan slag di Jombang menunjukkan praktik inovatif yang patut menjadi rujukan.
Industri setempat telah menerapkan pendekatan ekonomi sirkular dengan mengolah slag menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi. Aluminium sisa yang terkandung dalam slag diekstraksi dan dilebur kembali, sementara material residunya dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi seperti paving block dan batako. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi volume limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi.
3. Peran Strategis Pemerintah
Kunjungan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam mendukung pengelolaan limbah daerah melalui pendanaan, transfer teknologi, dan penguatan regulasi. Penjabat Bupati Jombang menyatakan komitmen memperkuat pengawasan dan pendampingan kepada pelaku industri, serta meningkatkan edukasi masyarakat.
Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi model kolaborasi efektif dalam tata kelola lingkungan. Regulasi yang jelas, insentif bagi pelaku usaha yang patuh, dan sanksi tegas bagi pelanggar menjadi instrumen penting dalam menciptakan budaya pengelolaan limbah yang bertanggung jawab.
4. Dampak Multidimensi
Penerapan teknologi pengolahan limbah menghasilkan dampak positif yang holistik. Dari aspek lingkungan, kualitas air sungai membaik, ekosistem perairan pulih, dan pencemaran tanah serta udara berkurang. Aspek kesehatan menunjukkan penurunan insiden penyakit yang ditularkan melalui air dan udara tercemar, serta terjaminnya keamanan pangan dari kontaminasi kimia berbahaya.
Dimensi ekonomi tidak kalah penting. Limbah cair tahu dapat diolah menjadi biogas untuk energi alternatif dan pupuk organik, mengurangi biaya operasional industri sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan. Slag aluminium yang semula menjadi beban berubah menjadi aset produktif. Secara sosial, praktik pengelolaan limbah yang baik meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan membangun citra positif industri lokal.
5. Penutup
Pengalaman Jombang dalam mengelola limbah tahu dan slag aluminium menawarkan pembelajaran berharga tentang pentingnya pendekatan holistik dalam pengelolaan limbah industri. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kekuatan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat.
Model ini layak direplikasi di daerah lain dengan penyesuaian konteks lokal. Tantangan lingkungan di era industrialisasi menuntut respons cepat, terukur, dan berkelanjutan. Sinergi pusat-daerah dalam pengelolaan limbah bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi lebih fundamental: membangun masa depan Indonesia yang bersih, sehat, dan sejahtera bagi seluruh masyarakat.
Penulis :
Nama: Rangga Hadinata
Nim: 202510140110061
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

