Notification

×

Iklan

Iklan

KKN Unimus Semarang Hadirkan RUBUHA di Sukorejo Grobogan, Inovasi Ekologis Mahasiswa Bantu Petani Hadapi Hama Tikus

Wednesday, 2 September 2026 | 21:37 WIB Last Updated 2026-09-02T14:37:36Z
"Mahasiswa KKN Unimus Semarang kelompok 15 ketika melakukan pemasangan program kerja RUBUHA"/Foto: Redaksi

RADARDETIK.ID - GROBOGAN - Di tengah hamparan persawahan Desa Sukorejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, berdiri sejumlah bangunan sederhana yang membawa harapan bagi petani. Bukan rumah bagi manusia, bangunan tersebut merupakan Rumah Burung Hantu (RUBUHA) yang dipasang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Angkatan 15 sebagai bagian dari upaya pengendalian hama tikus secara alami dan berkelanjutan.


Program yang digagas Kelompok 13 KKN Unimus Angkatan 15 tersebut menjadi salah satu bentuk inovasi pengabdian mahasiswa yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat. Alih-alih hanya mengandalkan pendekatan pengendalian hama konvensional, mahasiswa mendorong pemanfaatan keseimbangan ekosistem melalui penyediaan tempat bagi burung hantu sebagai predator alami tikus.

Kegiatan dilaksanakan selama masa KKN di Desa Sukorejo, yakni 29 Juli–27 Agustus 2026, dengan dukungan Pemerintah Desa Sukorejo di bawah kepemimpinan Kepala Desa Sriyono.


Berangkat dari Persoalan Petani

Gagasan pemasangan RUBUHA muncul setelah mahasiswa mengidentifikasi berbagai persoalan masyarakat selama pelaksanaan KKN. Salah satu masalah yang menjadi perhatian adalah gangguan hama tikus pada lahan pertanian.


Bagi masyarakat yang menggantungkan sebagian penghidupannya pada sektor pertanian, serangan hama bukan persoalan kecil. Kerusakan tanaman dapat menurunkan produktivitas panen dan pada akhirnya berpotensi memengaruhi pendapatan serta kesejahteraan petani.


Kondisi tersebut mendorong mahasiswa mencari alternatif yang tidak sekadar menyelesaikan persoalan dalam jangka pendek, tetapi memiliki peluang untuk terus dikembangkan setelah masa KKN berakhir. Ketua Kelompok 13 KKN Unimus, Khairul Umam, mengatakan program RUBUHA dipilih setelah mahasiswa melihat kebutuhan masyarakat dan potensi kawasan pertanian Desa Sukorejo.


“Kami tidak ingin KKN hanya meninggalkan dokumentasi kegiatan. Kami ingin ada sesuatu yang tetap dapat dimanfaatkan masyarakat setelah kami kembali ke kampus. Dari komunikasi dan pengamatan selama berada di desa, persoalan hama tikus menjadi salah satu hal yang dirasakan petani. Karena itu, kami mencoba menghadirkan RUBUHA sebagai alternatif pengendalian hama yang memanfaatkan predator alami,” kata Umam.


Menurutnya, program tersebut juga menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa karena mengajarkan bahwa inovasi tidak harus selalu berupa teknologi yang rumit dan mahal. Inovasi dapat berangkat dari persoalan sederhana, tetapi dirancang sesuai kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan setempat.


“Bagi kami, nilai utama RUBUHA bukan hanya pada bangunan yang berdiri di tengah sawah, tetapi pada gagasan keberlanjutannya. Harapan kami, masyarakat dapat menjaga dan mengembangkan program ini. Jika ke depan keberadaan burung hantu dapat membantu petani mengendalikan tikus, maka manfaat KKN akan terus hidup meskipun mahasiswa sudah tidak lagi berada di Sukorejo,” ujar Umam.


RUBUHA dipasang pada sejumlah titik strategis di kawasan pertanian Desa Sukorejo, yakni Sedayu, Grajegan, Jati, dan Jetak. Pemilihan lokasi mempertimbangkan keberadaan area persawahan dan kebutuhan pengendalian hama di wilayah tersebut.


Inovasi Sederhana Berbasis Ekosistem

Nilai kebaruan program tersebut terletak pada pendekatan pengabdian yang tidak berhenti pada pembangunan fasilitas fisik. Mahasiswa mencoba mengintegrasikan identifikasi persoalan pertanian, pemanfaatan predator alami, kepedulian terhadap keseimbangan ekosistem, edukasi masyarakat, dan keberlanjutan program dalam satu intervensi berbasis kebutuhan lokal.


"Mahasiswa KKN Unimus Semarang kelompok 15 ketika memperkenalkan RUBUHA kepada warga Sukorejo Grobogan"/Foto: Redaksi


RUBUHA dirancang untuk mendukung keberadaan burung hantu di sekitar kawasan pertanian. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa mendorong alternatif pengendalian hama yang lebih selaras dengan mekanisme alam. Program ini sekaligus membawa pesan bahwa inovasi desa tidak selalu identik dengan digitalisasi atau penggunaan perangkat berbiaya tinggi. Pemanfaatan potensi alam yang dirancang berdasarkan kebutuhan lokal juga dapat menjadi bentuk inovasi tepat guna.

Lebih jauh, RUBUHA memiliki dimensi edukatif. Masyarakat diajak melihat bahwa keseimbangan rantai makanan dan keberadaan predator alami mempunyai peran dalam menjaga ekosistem pertanian.


DPL: KKN Harus Meninggalkan Manfaat, Bukan Sekadar Program

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Unimus Semarang, Prima Trisna Aji, mengapresiasi inisiatif mahasiswa Kelompok 13. Menurutnya, salah satu ukuran penting keberhasilan KKN adalah kemampuan mahasiswa membaca kebutuhan masyarakat dan menerjemahkannya menjadi program yang relevan, realistis, serta memiliki peluang keberlanjutan.


“Saya sangat mengapresiasi mahasiswa yang mampu melihat persoalan nyata masyarakat kemudian menghadirkan alternatif solusi yang kontekstual. RUBUHA menarik karena mahasiswa tidak sekadar membuat fasilitas, tetapi membawa gagasan pengendalian hama dengan memanfaatkan keseimbangan ekosistem. Inilah semangat pengabdian yang kita harapkan: inovasi lahir dari kebutuhan masyarakat dan manfaatnya tidak berhenti ketika mahasiswa pulang dari lokasi KKN,” ujar Prima.


Menurut Prima, keberhasilan KKN semestinya tidak hanya dinilai berdasarkan banyaknya program kerja yang diselesaikan, tetapi juga dari ketepatan mahasiswa dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

“KKN bukan tentang seberapa banyak program yang dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan, tetapi seberapa tepat program tersebut menjawab kebutuhan desa. Ketika mahasiswa mampu memadukan pengetahuan akademik, potensi lokal, kepedulian terhadap lingkungan, dan partisipasi masyarakat, KKN benar-benar menjadi ruang lahirnya inovasi sosial,” katanya.


Prima berharap keberadaan RUBUHA tidak berhenti sebagai peninggalan fisik program KKN, melainkan dapat dirawat dan dipantau secara berkelanjutan oleh masyarakat.

“Saya berharap RUBUHA ini terus dirawat, dipantau, dan dikembangkan bersama. Ke depan, dampaknya juga dapat dievaluasi sehingga masyarakat memiliki gambaran mengenai manfaat program terhadap pengendalian hama. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya meninggalkan produk, tetapi juga menumbuhkan gagasan tentang pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” lanjutnya.


Tinggalkan Jejak Setelah KKN Berakhir

Aspek keberlanjutan menjadi salah satu kekuatan program RUBUHA. Setelah masa KKN berakhir pada 27 Agustus 2026, fasilitas yang dibangun tetap berada di kawasan pertanian dan dapat dikelola bersama masyarakat. Apabila RUBUHA dimanfaatkan oleh burung hantu dan keberadaan predator tersebut berkembang di sekitar persawahan, program ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap upaya pengendalian populasi tikus secara alami. Pemantauan lanjutan tetap diperlukan untuk mengetahui efektivitasnya terhadap kondisi hama maupun produktivitas pertanian.

Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan paradigma KKN. Mahasiswa tidak semata datang membawa agenda kegiatan, tetapi berusaha menempatkan masyarakat sebagai mitra dalam mengidentifikasi persoalan sekaligus menemukan alternatif solusi yang sesuai dengan potensi lokal.


Bagi Desa Sukorejo, RUBUHA dapat menjadi salah satu titik awal penguatan praktik pertanian yang semakin memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Sementara bagi mahasiswa, program tersebut menjadi ruang pembelajaran nyata tentang bagaimana ilmu pengetahuan, kreativitas, kepedulian lingkungan, dan kepekaan sosial dapat dipertemukan dalam pengabdian kepada masyarakat.


Kolaborasi 11 Mahasiswa

Program tersebut dijalankan oleh 11 mahasiswa Kelompok 13 KKN Unimus Angkatan 15, yakni Khairul Umam, Septi Febriyanti, Resa Amelia, Aisya Faradiba Kamila, Bagus Prabowo, Salsabila Rizki Syifa, Arya Raja Armaditya Putra, Ajeng Aulia Putri, Andri Bayu Saputra, Nanda Fitria Rizqi, dan Kayla Khansha Aurelia Dewi.


Kolaborasi mahasiswa, pemerintah desa, petani, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Melalui pendekatan tersebut, KKN diarahkan tidak sebatas memenuhi kewajiban akademik, tetapi menjadi ruang perjumpaan antara perguruan tinggi dan persoalan riil masyarakat. Kini masa pengabdian mahasiswa telah berakhir. Namun RUBUHA yang berdiri di kawasan persawahan Sukorejo menjadi salah satu jejak yang mereka tinggalkan.


Lebih dari sekadar bangunan di tengah sawah, RUBUHA membawa pesan tentang inovasi yang sederhana tetapi kontekstual: menghadapi persoalan pertanian tidak selalu harus dengan melawan alam, tetapi dapat dilakukan dengan mengoptimalkan mekanisme alam secara bijaksana.


Dari Sukorejo, mahasiswa KKN Unimus menunjukkan bahwa pengabdian dapat dimulai dari satu persoalan lokal, dikembangkan melalui inovasi tepat guna, dan diarahkan untuk meninggalkan manfaat yang terus bertumbuh setelah masa KKN berakhir.




×
Berita Terbaru Update