Notification

×

Iklan

Iklan

Deteksi Penyakit Tak Menular Sejak Dini, UNIMUS Semarang Bekerja sama dengan RSUD Dr. A Dadi Tjokrodipo Lampung Gelar Skrining Kesehatan Jemaat HKBP Tanjung Karang

Wednesday, 28 October 2026 | 16:26 WIB Last Updated 2026-10-28T09:26:20Z
Pengabdian kepada masyarakat prodi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah yang dilaksanakan di Bandar Lampung/Foto: Redaksi


RADARDETIK.ID - Bandar Lampung - Penyakit tidak menular kerap berkembang tanpa menunjukkan gejala berarti pada tahap awal. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Program Studi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah (KMB), Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), menggelar pemeriksaan kesehatan dan edukasi sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini.


Kegiatan bertajuk “Optimalisasi Status Kesehatan Jemaat Gereja HKBP Ress Tanjung Karang melalui Pemeriksaan Kesehatan dan Penyuluhan Kesehatan” tersebut dilaksanakan di Gereja HKBP Tanjung Karang, Bandar Lampung, pada 27 November 2026. Pengabdian kepada masyarakat itu dilaksanakan mahasiswa Spesialis Keperawatan Medikal Bedah UNIMUS bekerja sama dengan RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung. Sebanyak 41 warga berusia 40 tahun ke atas mengikuti rangkaian pemeriksaan kesehatan.


Skrining meliputi pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS), kolesterol, asam urat, dan tekanan darah. Pemeriksaan tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat mengenali lebih awal faktor risiko diabetes melitus, dislipidemia, hiperurisemia, dan hipertensi. Tidak berhenti pada pemeriksaan, peserta juga memperoleh penjelasan mengenai hasil pemeriksaan masing-masing serta konseling kesehatan. Edukasi diberikan mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik, pengendalian faktor risiko, kepatuhan terhadap pengobatan bagi warga yang telah mendapatkan terapi, serta pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.


Ketua Program Studi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah UNIMUS, Ns. Yunie Armiyati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., mengatakan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian penting dari proses pendidikan tenaga keperawatan spesialis karena kompetensi tidak cukup dibangun hanya melalui pembelajaran di ruang kelas dan pelayanan klinis.


“Pengabdian kepada masyarakat merupakan ruang bagi mahasiswa spesialis untuk membawa kompetensi keperawatan lebih dekat kepada masyarakat. Perawat spesialis tidak hanya dituntut mampu menangani pasien ketika penyakit sudah terjadi, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam promosi kesehatan, deteksi dini, pencegahan komplikasi, dan pemberdayaan masyarakat agar mampu menjaga kesehatannya secara mandiri,” kata Yunie.


Menurut dia, pendekatan preventif semakin penting di tengah tingginya tantangan penyakit tidak menular. Hipertensi, diabetes, gangguan lipid, dan berbagai faktor risiko kardiovaskular dapat berkembang tanpa keluhan yang khas sehingga pemeriksaan berkala perlu menjadi bagian dari budaya hidup sehat masyarakat.


“Harapannya, kegiatan seperti ini tidak berhenti pada mengetahui angka tekanan darah, gula darah, kolesterol, atau asam urat. Yang lebih penting adalah munculnya kesadaran untuk menindaklanjuti hasil tersebut melalui perubahan gaya hidup dan pemeriksaan di fasilitas kesehatan apabila ditemukan faktor risiko,” ujarnya.


Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan registrasi dan pendataan peserta. Warga kemudian menjalani pemeriksaan menggunakan perangkat point-of-care testing untuk mengetahui kadar gula darah sewaktu, kolesterol, dan asam urat, serta pengukuran tekanan darah sebagai bagian dari deteksi dini hipertensi. Setelah pemeriksaan, mahasiswa memberikan konseling secara individual. Peserta mendapat penjelasan mengenai hasil pemeriksaan dan langkah yang dapat dilakukan untuk mempertahankan maupun memperbaiki kondisi kesehatannya. Warga yang menunjukkan hasil di atas batas normal dianjurkan melakukan pemeriksaan lebih lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan.


Tim pelaksana menilai model skrining yang dipadukan dengan edukasi penting karena masyarakat tidak hanya memperoleh hasil pemeriksaan, tetapi juga memahami makna hasil tersebut dan langkah yang perlu dilakukan setelahnya.


“Deteksi dini akan lebih bermakna ketika diikuti dengan pemahaman dan perubahan perilaku. Karena itu, kami tidak sekadar melakukan pemeriksaan, tetapi juga berdialog dengan peserta mengenai faktor risiko dan kebiasaan sehari-hari yang dapat dimodifikasi untuk menjaga kesehatan,” ujar Arief perwakilan tim mahasiswa Spesialis Keperawatan Medikal Bedah UNIMUS.


Kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi mahasiswa spesialis untuk mengimplementasikan kompetensi Keperawatan Medikal Bedah dalam konteks komunitas. Pendekatan ini memperluas peran perawat dari pelayanan kuratif di rumah sakit menuju upaya promotif dan preventif yang menjangkau masyarakat secara langsung. Kolaborasi UNIMUS dan RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung diharapkan turut memperkuat keterhubungan antara institusi pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat dalam pengendalian penyakit tidak menular.


Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa merasa sehat belum tentu berarti terbebas dari faktor risiko penyakit. Pemeriksaan kesehatan berkala, pengendalian pola makan, aktivitas fisik, kepatuhan terhadap terapi, serta tindak lanjut ke fasilitas kesehatan ketika ditemukan hasil abnormal menjadi bagian penting untuk mencegah penyakit berkembang hingga menimbulkan komplikasi.


Bagi mahasiswa Spesialis Keperawatan Medikal Bedah UNIMUS, kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pelayanan keperawatan tidak hanya berlangsung ketika seseorang berada di ruang perawatan, tetapi juga dimulai dari upaya membantu masyarakat mempertahankan kesehatannya sebelum penyakit berkembang lebih jauh.



×
Berita Terbaru Update